Arsip Bulanan: Oktober 2008

Rabu, 29 oktober 2008. 05.30 PM.

Tidak ada firasat yang datang menjengukku. Kira-kira satu jam sebelumnya situasinya baik-baik saja. Dosen itu pun terlihat biasa, sama seperti pada minggu-minggu sebelumnya. Menyisir licin rambutnya yang mayoritas berwarna perak sebelum masuk kelas, merapikan baju, serta bercermin melalui kaca kecil berbentuk bundar yang selalu dibawa dalam saku baju. Seperti biasa dia juga mengubar seribu senyum pada setiap mahasiswa yang dilewatinya sepanjang balkon menuju kelas di tingkat dua.
Baca Lebih Lanjut »

Warning!!

Postingan ini menyebabkan cengar-cengir, terbahak-bahak, gangguan penglihatan, kecewa, serta ribuan tanda tanya. Sangat dianjurkan bagi penderita gundah hati, patah hati, sakit hati, dan masalah hati lainnya. Gunakan sesuai anjuran, bila sakit berlanjut hubungi dokter.
Baca Lebih Lanjut »

Nah, kali ini entah dari mana berhembusnya ide postingan ini. Yang pasti muncul beberapa detik setelah beberapa teman kampusku bertanya; setiap sabtu dan minggu kamu kemana sih? Nga ada di rumah, jarang ngejam ama kita-kita. Trus kalau di hubungi alasannya sibuk melulu. Dah kaya pejabat aja!!!

Aku sih nga ambil pusing, memangnya kenapa? Ku katakana saja aku ke Rumah Cerita!!

“Kamu tahu Rumah Cerita,” tanyaku?

“Rumah Cerita, apaan tuh?”

“Mau tau? Sekarang kamu pergi ke warnet, lalu akses syafwan15.wordpress.com”

“sial, nih anak dah gila rupanya. Jangan-jangan terserang Trojan karena kebanyakan browsing”

“Bawel banget sih, sekali-kali nurut napa sih?” teriakku dengan dahi berkerut.

***

Rumah Cerita. Dari namanya saja sudah dapat dibayangkan beberapa definisi. Mau mencoba? mari kita berkhayal! Pertama aku menawarkan definisi bahwa rumah cerita itu adalah rumah yang bisa bercerita. Kedua, Rumah Cerita itu adalah rumah yang mampu membuat orang bercerita. Dan ketiga, Rumah Cerita itu adalah tempat dimana beberapa orang datang, lalu bercerita. Tebak, mana yang benar?
Baca Lebih Lanjut »

Mungkin ini hanyalah sebuah keterpaksaan atau penguatan tekad untuk menulis, setelah beberapa malam yang lalu berbagai macam tema, penokohan, dan plot berkecamuk dalam tidurku. Aku bingung harus melakukan apa. Tepatnya harus menulis apa? Apakah hanya sekedar omong kosong dan bualan tentang keseharianku. Aku rasa mereka tidak perlu mengetahui itu, karena tidak ada yang menarik. Lalu terbesit sebuah tanda tanya besar, apa yang seharusnya ku tulis? Terlalu banyak ide-kah yang membuatku malas untuk menulis, atau ada unsur psikologi lain yang membuat ku harus menulis?
Baca Lebih Lanjut »

Seperti mimpi, cerita ini akhirnya selesai dan diterbitkan di Radar Banjarmasin, Minggu 19 Oktober 2008.
“Laki-laki, Kupu-kupu, dan laut,” sepertinya akan menjadi stimulus baru yang mengobarkan semangatku.
Menyadarkan diriku untuk lebih mengenal siapa aku? “laki-laki yang terbang di bawah tekanan”

Laki-laki itu masih duduk berselimut kabut malam. Kepalanya mendongak menatap taburan bintang di langit yang cerah malam ini. Gemuruh ombak kian mengerang, air laut ditarik sinar rembulan. Sudah satu minggu aku melihatnya di sana. Duduk di atas sebuah batu karang. Entah apa penyebabnya, sehingga dia selalu ada di tempat yang sama ketika matahari lelah membakar pantaiku, di sebuah desa kecil pesisir bernama Malindo.
Baca Lebih Lanjut »