Arsip Bulanan: Desember 2008

Malam itu aku pulang dengan perasaan kesal yang mendalam. Jauh dilubuk hatiku mengelutuk bertanya; ada apa dengan semua ini. Jalan begitu ramai, taburan kembang api mengalahkan eloknya bintang diatas sana. Apalagi sinar bulan, sudah pasti tidak ada seorang pun yang akan menatap keindahannya. Yang ada hanya gaung motor, dentuman petasan, histeris terompet-terompet malam, serta teriakan beberapa orang yang tak jelas asal muasalnya. Mungkin kaki mereka terinjak atau tergilas roda motor karena padatnya jalan raya.

Baca Lebih Lanjut »

Memang benar apa yang selama ini dikatakan orang. Kurang berhati-hati itu berakibat sangat fatal. Tidak ada sebatikpun niat untuk memplagiat orang ini dan ini. Tapi entah kenapa kenapa aku seperti terhipnotis dan melakukan hal yang sama. Sekarang aku berketombe. Entah apa sebutan mereka untuk hal ini. yang pasti apa yang tersajikan disini sungguh elegan, menurutku.

Baca Lebih Lanjut »

Kemarin lusa adalah malam yang sangat melelahkan. Aku pulang kerumah dengan ion tubuh yang terkuras plus rasa pegal yang amat sangat. Di sepanjang jalan sudah terbayang; segarnya guyuran air shower dan empuknya kasur yang terbuat dari kapuk.  Setelah sehari penuh tidak menginjakkan kaki di ubin rumah, pasti rasanya akan nikmat sekali. Meluruskan bahu dan pinggang,  ditemani secangkir kopi hangat. Menulis beberapa paragrap. Atau kelelahan, lalu terlelap.

Baca Lebih Lanjut »

Kembali, sebuah pemikiran sok suci dan merasa paling benar tersaji bersama segelas kopi. Terserah kalian mau menilai apa. Aku tak perduli, karena aku berhak berbicara. Bukankah sekarang jaman yang serba buka-bukaan. Para artis dan selebritis boleh buka-bukaan baju di pub malam. Pejabat yang tidak kebagian jatah korupsi, boleh buka-bukaan rahasia dapur perusahaan. Lantas kenapa aku harus diam? Apakah karena slogan mereka (belum tua belum boleh ngomong) lalu aku harus diam bagai kambing yang digembala keujung jurang. Terlalu absurb. Alasan itu terlalu tipis setipis kulit bawang.
***

Baca Lebih Lanjut »

Maaf, tak ada lagi yang bisa kukatakan setelah kepergianmu. Sepertinya aku perlu berhibernasi beberapa pekan. Memulihkan staminaku usai perjalanan panjang dari alam sebelah. I be on vacation…….