Arsip Kategori: Histeria

Kota Mimpi, Awal Februari 2009

Sayang apa kabarmu. Kuharap engkau sehat dan dalam lindungannya selalu. Empat hari lagi genaplah satu bulan aku meninggalkanmu. Seperti biasa yang kau ketahui, aku  terus membela diri agar tidak dipersalahkan. Satu bulan itu bukan waktu yang singkat, ternyata batinku juga tak bisa mengelak untuk memikirkanmu. Aku merindukanmu, merindukan dekapmu, hangatmu, senyummu. Aku merindukan seluruh lekuk jiwamu.

Baca Lebih Lanjut »

Malam itu aku pulang dengan perasaan kesal yang mendalam. Jauh dilubuk hatiku mengelutuk bertanya; ada apa dengan semua ini. Jalan begitu ramai, taburan kembang api mengalahkan eloknya bintang diatas sana. Apalagi sinar bulan, sudah pasti tidak ada seorang pun yang akan menatap keindahannya. Yang ada hanya gaung motor, dentuman petasan, histeris terompet-terompet malam, serta teriakan beberapa orang yang tak jelas asal muasalnya. Mungkin kaki mereka terinjak atau tergilas roda motor karena padatnya jalan raya.

Baca Lebih Lanjut »

Kembali, sebuah pemikiran sok suci dan merasa paling benar tersaji bersama segelas kopi. Terserah kalian mau menilai apa. Aku tak perduli, karena aku berhak berbicara. Bukankah sekarang jaman yang serba buka-bukaan. Para artis dan selebritis boleh buka-bukaan baju di pub malam. Pejabat yang tidak kebagian jatah korupsi, boleh buka-bukaan rahasia dapur perusahaan. Lantas kenapa aku harus diam? Apakah karena slogan mereka (belum tua belum boleh ngomong) lalu aku harus diam bagai kambing yang digembala keujung jurang. Terlalu absurb. Alasan itu terlalu tipis setipis kulit bawang.
***

Baca Lebih Lanjut »

Maaf, tak ada lagi yang bisa kukatakan setelah kepergianmu. Sepertinya aku perlu berhibernasi beberapa pekan. Memulihkan staminaku usai perjalanan panjang dari alam sebelah. I be on vacation…….

Pak-Mal. Mungkin perpisahan ini sudah suratan takdir. Menyisakan sebuah kesedihan yang mendalam. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran berharga yang engkau rangkai dalam benakku. Terlalu banyak canda dan tawa yang berlalu. Terlalu banyak pengorbanan yang nyaris semu. Apakah ini keputusan akhir? Meninggalkan aku dan Banjarmasin dalam kenangan yang menggantung dilangit-langit ruko tempat tinggalmu. Ataukah karena perbuatan segelintir oknum yang mengkambing hitamkan dirimu. Menuduhmu sebagai sumber malapetaka serta kemerosotan nilai-nilai sosial? Jujur, kalau boleh kuakui engkau masih terlalu berharga bagiku. Karena engkaulah sumber informasiku.

Baca Lebih Lanjut »